pada sebuah kota(k)

Pertukaran


: pada sebuah rasa

Aku berjalan menuju penunjuk jalan. Mengantongi  permen mint untuk obat kesepian.
Semoga sampai rumahmu – yang penuh rerimbunan dan beratap tosca -
pada tepat waktu, sebelum musim flu datang dan menyerangku saat jatuh cinta : padamu.

Sampai dihalaman rumahmu.
Kutemukan  cangkul diantara buku-buku yang terserak di rak sepatumu.
Tak ada singkong rebus yang enggan dingin.
Tak ada teriakan ayam yang minta teman.
Aku cium pipimu yang menempel  ditembok, dan
kamu tak ingin lekas beranjak dari mimpi.

Nesia Putri Amarasthi
Yogya – Ponorogo, 15 April 2012


Semacam Latar Belakang

Dunia Papua bukan hanya berisi politik yang selalu di beritakan dengan “Panas”. Namun ada sisi lain yang menyejukkan, budaya dan kehidupan sosialnnya yang unik!
_http : //kisipapua.blogspot.com di Upload pada Sabtu, 20 Oktober 2007_

Tanah Papua adalah tanah yang kaya. Dapat dideskripsikan secara konotatif dan denotataif. Selain “kaya” akan mineral alam serta subur, juga memiliki budaya dan sistem sosial yang menarik. Letak geografisnya yang ada pada ujung timur Indonesia berbatasan dengan Papua Nugini. Bentuk daratannya menyerupai kepala burung. Bumi cenderawasih ini memiliki keunikan dalam struktur sosialnya. Banyak suku yang mendiaminya bukan menjadkan halangan untuk berkebudayaan, namun sebuah tabungan yang besar bagi kebudayaan nusantara.
Suku Amungme adalah bagian dari suku bangsa di Papua yang mendiami beberapa lembah luas di kabupaten Mimika dan Kabupaten Puncak Jaya antara gunung-gunung tinggi yaitu lembah Tsinga, lembah Hoeya, dan lembah Noema serta lembah-lembah kecil seperti lembah Bella, Alama, Aroanop, dan Wa. Sebagian lagi menetap di lembah Beoga (disebut suku Damal, sesuai panggilan suku Dani) serta dataran rendah di Agimuga dan kota Timika. ( http://www.lpmak.org , diakses pada 31 Mei 2008 )
Secara harafiah Amungme terdiri dari dua kata yang memiliki makna berbeda yaitu “amung” yang artinya utama dan “mee” yang artinya manusia, menurut legenda yang diwariskan turun temurun, konon orang Amungme berasal dari derah Pagema (Lembah Baliem) Wamena. Hal ini dapat ditelusuri dari kata Kurima yang artinya tempat orang berkumpul dan hitigima yang artinya tempat pertama kali para nenek moyang orang-orang Amungme mendirikan honey dari alang-alang. ( idem )
Orang Amungme percaya bahwa mereka adalah keturunan pertama dari anak sulung bangsa manusia, mereka hidup disebelah utara dan selatan pegunungan tengah yang selalu diselimuti salju abadi yang dalam bahasa Amungme disebut nemangkawi (anak panah putih). Orang Amungme berasal dari suku Damal, keluarga besar eogam-e, anak sukunya adalah suku Delem yang hidup di sepanjang sungai Memberamo. ( idem )
Yang menarik dari Amungme adalah usaha-usaha untuk mempertahankan eksistensi sukunya sangat keras. Dapat dibuktikan dengan adanya banyak perlawanan terhadap penambang-penambang besar dikawasan tanah leluhurnya. Walaupun yang pada akhirnya akan terpinggirkan oleh sebuah ”kekuatan besar” yang membuka pertimbangan di wilayah tanah leluhurnya.

Konsep Umum Kearifan Lokal di Suku Amungme

Masyarakat Suku Amungme hidup dan menyatu dengan alam serta menyelaraskan hubungan roh dengan alam. ( http://www.melanesianews.org, diakses pada 18 Mei 2008 ). Hubungan yang yang terjadi secara turun temurun ‘ditularkan’ , sehingga menjadi sebuah local genius. Masyarakat Suku Amungme sendiri sangat menghargai alam. Mereka menganggap bahwa alam adalah sumber kehidupan mereka dan satu-satunya penghubung antara mereka dan roh nenek moyang mereka. Hal ini terjadi tidak hanya di Suku Amungme saja seperti halnya yang disampaikan oleh William Wordsworth dan William Blake yang dikutip oleh Thomas Hidya Tjaya dalam bukunya Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri :
….bahwa manusia sebetulnya memiliki kesatuan dengan alam, seperti tampak dalam puisi-puisi mereka. Rasa kesatuan dan harmoni dengan alam ini dalam arti tertentu “melahirkan” gagasan kaum idealis mengenai keselarasan Roh Semesta dengan roh manusia individual, disamping mengenai Roh Semesta yang mengiringi perjalanan sejarah umat manusia dan mengantar mereka pada kepenuhan hidup.

Pernyataan diatas menegaskan bahwa ikatan atau relasi antara manusia dan alam sangat erat. Suku Amungme sendiri percaya bahwa usaha yang baik akan mendapatkan hasil yang baik. Terkait dengan hubungannya dengan alam dan roh nenek moyang mereka. Misalkan dalam berkebun, masyarakat Suku Amungme akan mengusahakan sesuatu yang maksimal, dengan harapan roh leluhur akan memberikan berkah kepada mereka yang berupa panenan yang banyak.
Sikap dan pandangan orang Amungme menggambarkan habitat kehidupannya berdasarkan tubuh seorang perempuan, yakni ibu mereka. Bagian puncak Gunung Ertzberg disimbolkan dengan kepala (nainggok) sebagai tempat sakral dan spirit kehidupan Amungme. Pegunungan tengah tempat hidup orang Amungme, divisualisasikan sebagai bagian leher sampai pusar ibu. Di sanalah sumber kehidupan orang Amungme. Sedangkan kaki perbukitan sampai kawasan pantai dilambangkan dengan onisa (bagian tubuh dari pusar sampai kaki). Habitat kehidupan suku Amungme secara vertikal digambarkan sebagai tubuh tegak seorang perempuan. ( Indra Ismawan. Minggu, 14 September 1997. Merenungkan Nasib Suku Amungme. Kompas Online. Diakses pada 17 Mei 2008 )

Implementasi Konsep Kearifan Lokal Suku Amungme
Dari konsep umumnya, dapat ditelaah bahwa masyarakat Suku Amungme dalam sepanjang hidupnya memiliki sebuah aturan yang kemudian dapat dirasionalisasikan. Dibawah akan dijelaskan mengenai banyak hal implementasi dari konsep umum yang sudah dijelaskan pada bab pendahuluan.
1. Sistem Pendidikan Oleh Pai Tua
Sejak kecil, masyarakat Suku Amungme diajarkan cara-cara bertahan hidup di alam. Ketika kecil mereka diajarkan untuk dapat mencari makan, membangun rumah, mempelajari hukum adat, memasak serta segala yang biasa mereka lalukan untuk bertahan hidup. Mereka diajarkan berjalan jauh, mendaki gunung, memanjat tebing, dll. Untuk perempuan diajarkan memasak, membuat baju, mengasuh anak, dll. Jika dirasionalisasikan sistem pendidikan mereka sebagai sebuah sarana untuk menurunkan adat mereka kepada keturunannya. Juga untuk lebih mengenal eksistensi dirinya diantara relasinya dengan alam dan roh leluhur. Dalam keyakinan Amungme, bahwa apabila ada pelanggaran dalam aturannya -baik dalam konteks kepercayaan maupun sosial. Jadi sedari kecil mereka “ditularkan” apa yang orangtua         ( Pai Tua ) miliki. Perempuan dalam Suku Amungme memiliki posisi yang besar dalam menentukan kesejahteraan seluruh masyarakat Amungme. Betapa tidak, perempuan sebagai simbol kesuburan dan kesejahteraan. Maka dari itu, pendidikan kaum perempuan di dalam Suku Amungme dirasa lebih berat daripada pendidikan kaum laki-laki. ( Media Indonesia. 4 Juni 2005 . Perempuan Lebih Ditakuti Ketimbang Pria.. http://www.infopapua.com , diakses pada 8 Mei 2008 )
2. Ritual-ritual adat
Masyarakat yang hidup dan menyatu dengan alam, menyelaraskan hubungan roh mereka dengan apa yang ada di alam. Masyarakat adat mengenal apa yang dinamakan kepercayaan kepada sang pencipta, percaya kepada roh-roh halus, animisme dan dinamisme. Dalam implementasinya mereka menjalankan ritual-ritual yang berkaitan dengan kepercayaan / sistem religi mereka
a. Ritual untuk mendapatkan perlindungan
Ritualnya adalah dengan menyimpan tulang-belulang di tempat-tempat khusus, di hutan atau dibuat pondok, lalu disembah dengan meletakan sesajian-sesajian. Semuanya dilakukan untuk mendapatkan perlindungan, kekuatan, mendatangkan kesuburan tanah. Cara kami mereka berbeda-beda, tetapi tujuannya sama. Yaitu menyembah Tuhan sebagai pencipta alam semesta ini. Yang terpenting adalah yang hidup sekarang, harus berbuat baik dengan sesama, alam dan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini. ( Fuska Sani Evani. 11 Februari 2005. Koteka dan Dinamikanya. Suara Pembaruan. http://www.papuanindependent.com , diakses pada 8 Mei 2008 )
b. Ritual Adat ‘Perang’
Perang merupakan sebuah ritual adat yang ditunggu-tunggu bagi masyarakat suku Amungme. Namun perang suku yang dilakukan hanya sebatas untuk melestarikan adat nenek moyang dan bukan bertujuan untuk saling membunuh. Ritual perang dulunya untuk eksistensi sebuah suku, bagi Suku Amungme sendiri ritual perang adat ini sebagai simbol kesuburan dan kesejahteraan. Prosesi ritual ini dilakukan oleh Suku Amungme dengan perlengkapan perang lengkap, misalnya tombak, busur, panah. Biasanya pada akhir prosesi akan dinyanyikan lagu-lagu adat dan teriakan-teriakan penuh semangat. Mereka pun berangkulan sambil mengunyah pinang bersama. Kemudian mereka menyanyikan lagu-lagu adat, simbol kebesaran dan kehormatan suku melalui perang itu. Tanpa darah dan korban jiwa, perang berakhir dengan kebahagiaan. Daging babi yang masih hangat pun menanti untuk disantap beramai-ramai. ( Media Indonesia. 24 Juni 2005. Merindukan Perang tanpa Darah. www. Infopapua.com , diakses pada 8 Mei 2008 )
c. “bakar batu” atau ritual barapen
Ritual ini dilaksanakan untuk memperbaiki hubungan sosial masyarakat suku atau bahkan masyarakat antar suku. Ritual ini melibatkan banyak orang. Ritual ini dilaksanakan seusai ritual perang. Setelah ritual perang sang kepala suku menyediakan babi untuk disantap. Kebiasaan ini memiliki arti nilai-nilai kehidupan yang sangat sederhana yang selalu bermuara pada kebersamaan, kekompakan, perdamaian, keadilan, kejujuran, ketulusan, dan keikhlasan. Seperti namanya, Bakar Batu memang benar-benar dimulai dengan membakar batu. Tetapi, penamaan itu sesungguhnya diberikan terkait proses memasak makanan secara tradisional. Ritual Bakar Batu merupakan cermin demokrasi sejati dan sempurna ada di Pegunungan Tengah. .( Gabriel Maniagasi. http://www.pintusingapura.org/forumpintu/ , diakses pada 8 Mei 2008)
3. Konstruksi Rumah adat dan Maknanya bagi masyarakat Adat
Honae merupakan rumah-rumah adat penduduk asli Papua yang tinggal di pegunungan. Dalam satu keluarga, antara kaum perempuan dan lelaki meski berstatus saudara tidak boleh tinggal dalam satu rumah. Karena itu para kepala keluarga diwajibkan membangun dua buah honae untuk tempat tinggal anggota keluarga mereka berdasarkan jenis kelamin. Menurut Fanny Kogoya, tempat tinggal laki-laki harus terpisah dengan perempuan bertujuan untuk menjaga aksebilitas kaum laki-laki. Bagi orang Papua dan khususnya masyarakat adat, di tubuh perempuan, ada kehidupan dan kematian. Karenanya, harus ada keseimbangan. Karena itu, orang Papua sedikit merasa rikuh jika tinggal bersama dalam satu rumah, meski mereka sudah berkeluarga. ( Fuska Sani Evani. 11 Februari 2005. Koteka dan Dinamikanya. Suara Pembaruan. http://www.papuanindependent.com , diakses pada 8 Mei 2008 ). Umumnya dalam sebuah kelompok terdiri atas satu ‘Itorei’ (honae untuk laki-laki), beberapa ‘Ongoi’ (honae untuk perempuan), dan dapur. Jarak antarhonae tidak saling berdekatan untuk menyisakan sebidang lahan sebagai tempat bakar batu. Honae itu sendiri adalah sebuah bangunan yang berbentuk seperti tabung silinder. Berdinding dan berlantai kayu dengan sebuah pintu untuk keluar-masuk rumah. Dari segi arsitektur rancang bangun, honae yang dibangun dengan bentuk silinder bukanlah tanpa maksud. Dengan bentuknya yang melingkar di semua sisi, bangunan ini dapat menahan kerasnya terpaan angin kencang yang sering terjadi di Pegunungan Papua. Tepat di tengah ruangan, di permukaan lantai, dibangun perapian yang berfungsi utama sebagai penghangat ruangan dan penerangan di malam hari. Ruangan bagian dalam mereka gunakan untuk tempat berkumpul sekaligus ruang tidur anggota keluarga.

Tantangan Kearifan Lokal Papua
Dengan dibukanya perusahaan tambang Internasional merubah sebagian kondisi di dalam masyarakat adat Amungme. Datangnya para pegawai di perusahaan tersebut – yang notabene karena perusahaan Internasional, maka datang pendatang dari berbagai penjuru dunia-. Mereka membawa kebiasaan masing-masing dan sedikit demi sedikit ‘meracuni’ kebiasaan-kebiasaan lokal masyarakat. Yang pada awalnya masyarakat adat tidak terlalu memperhatikan nilai uang dalam mempertahankan hidupnya, setelah adanya semacam percampuran kebiasaan, maka sebagian masyarakat begitu ‘gila’ dengan nilai uang. Mereka tidak lagi menaati aturan-aturan adat dan lebih mementingkan nilai uang. Uang mereka dapat dari penjualan hasil tambang, hasil tambang mereka peroleh dari sisa-sisa tambang besar. Sedangkan tidak secara langsung disadari oleh sebagian dari mereka – atau memang sengaja ada pihak yang tidak menyadarkan- tanah dimana tempat didirikan perusahaan tambang tersebut adalah tanah adat yang disucikan karena merupakan tempat peristirahatan roh ibu ( roh leluhur) atau masyarakat adat Amungme menyebutnya dugu-dugu.
Tantangan juga muncul dari pemerintah, yang pada masa Orba mengeluarkan kebijakan mengenai pemakaian koteka. Pemerintah melarang masyarakat menggunakan koteka karena dianggap sebagai simbol kemiskinan, keterbelakangan dan “ tidak beradab”. Karena itu pemerintah membagikan pakaian gratis kepada mereka, walau hanya bisa bertahan beberapa bulan saja, karena baju yang mereka kenakan tidak pernah diganti sehingga koyak dibadan. ( Ahmad Arif. Laporan Jurnalistik Kompas : Ekspedisi Tanah Papua. 35-36) .
Keadaan diperparah dengan konflik-konflik bersenjata yang kian mengental : konflik antar suku, serta konflik antara masyarakat adat dengan perusahaan tambang asing yang menggunakan tanah adat mereka sebagai lahan pertambangan. Jika saja proses ekstraksi sumber daya alam dengan pola-pola enclave dan terus meninggalkan hak-hak masyarakat adat, niscaya konflik perebutan sumber daya alam di Papua akan terus berkepanjangan. Emas dan kekayaan alam lain di Papua hanya akan menjadi kutukan (Ahmad Arif. Laporan Jurnalistik Kompas : Ekspedisi Tanah Papua. 35-36) .
Perusahaan tambang tersebut memang telah melakukan “kejahatan double”, selain merusak secara ekologis, secara kultural mereka hampir saja membinasakan Suku Amungme. Rentetan masalah seperti penggusuran Suku Amungme dari Grasberg ke Kwamki mengakibatkan 75 persen generasi Amungme punah akibat geografis tempat tinggal berbeda. (Dominggus A. Mampioper. 06 Nov 2007. Pertikaian di kawasan tambang emas Papua. http://www.superwebindo.com. Diakses pada 17 Mei 2008 )

Kesimpulan
Pada dasarnya masyarakat Suku Amungme mempercayakan hidupnya kepada alam dan roh ibu ( leluhur mereka ). Seperti yang ada pada konsep umum kearifan lokal mereka habitat kehidupan suku Amungme secara vertikal digambarkan sebagai tubuh tegak seorang perempuan. Bertolak dari hal tersebut maka masyarakat suku Amungme sangat memposisikan perempuan. Perempuan sebagai simbol kesuburan, kesejahteraan, kemenangan. Seperti halnya konsep ekofeminisme, yang menganggap perempuan adalah sebuah sosok yang lain dari alam. Ketika terjadi kerusakan alam, maka yang terjadi adalah pengabaikan akan sifat kealaman. Sedangkan makhluk hidup akan senantiasa beraksi dan beraksi atas perubahan yang terjadi pada alam.
Dalam ritual-ritual yang dilaksanakan, masyarakat adat sangat memperhatikan hubungan mereka dengan alam, roh leluhur dan hubungan antar manusia. Tantangan yang muncul berasal dari pihak perusahaan tambang swasta, muncul dari pemerintah juga dari masyarakat adat Suku Amungme sendiri. Bagaimanapun kerusakan alam akan terjadi jika pihak penguasa meminggirkan sebuah kearifan lokal yang menjadi pandangan hidup masyarakat lokal setempat. Pihak yang terpinggirkan pun akan terkikis secara alamiah.

Pustaka
__. 2007. Laporan Jurnalisik Kompas : Ekspedisi Tanah Papua. Kompas : Jakarta
Abdullah, Irwan.Prof.Dr. 2007. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Pustaka Pelajar : Yogyakarta
Hidya Tjaya, Thomas. 2004. Kierkegaard dan Perglatan Menjadi Diri Sendiri. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia
Dominggus A. Mampioper. 06 Nov 2007. Pertikaian di kawasan tambang emas Papua. http://www.superwebindo.com. Diakses pada 17 Mei 2008
Fuska Sani Evani. 11 Februari 2005. Koteka dan Dinamikanya. Suara Pembaruan. http://www.papuanindependent.com , diakses pada 8 Mei 2008
Gabriel Maniagasi. http://www.pintusingapura.org/forumpintu/ , diakses pada 8 Mei 2008
Media Indonesia. 4 Juni 2005 . Perempuan Lebih Ditakuti Ketimbang Pria.. http://www.infopapua.com , diakses pada 8 Mei 2008
Indra Ismawan. Minggu, 14 September 1997. Merenungkan Nasib Suku Amungme. Kompas Online. Diakses pada 17 Mei 2008
http://www.lpmak.org , diakses pada 31 Mei 2008
http : //kisipapua.blogspot.com di Upload pada Sabtu, 20 Oktober 2007


Ruang ini akan kumulai dari cerita sebuah wawancara program Actor Studio III Teater Garasi. Pewawancara seleksi peserta Actor Studio III adalah Kusworo Bayu Aji  dan Gunawan Maryanto. Pertanyaan  pertama  adalah  “mengapa kamu  tertarik mengikuti program ini?”  dan  saya  menjawab “karena  saya ingin belajar banyak tentang proses pertunjukan teater yang ideal”. Dan mengapa saya menjawab demikian, karena sebuah ruang refleksi saya hadirkan setelah saya mengalami dan melakukan sebuah managerial produksi  yang tidak ideal. Mereka  – Kusworo  Bayu Aji  dan Gunawan  Maryanto  – merespon dengan pertanyaan selanjutnya, “menurutmu pertunjukan teater yang ideal itu yang seperti apa”. Saya menjawab, yang tidak ada double – bahkan bisa triple and the other – jobs dalam perangkat produksi pertunjukan teater.
Saat ini  saya  menghadirkan  kembali  ruang  refleksi  ini,  karena pemahaman “proses pertunjukan  teater yang  ideal”  itu bisa beragam. Pertama, adalah jawaban saya dalam wawancara  seleksi peserta Actor Studio III. Kedua,  yang ideal   adalah , gagasan dan tujuan jelas, maka akan menemukan managerial produksi yang jelas juga. Misal, dengan proses    komunikasi    dan    proses    pembagian    jobdesk   yang   jelas   dan   dapat dipertanggungjawabkan sampai pasca-pertunjukan dilaksanakan.
Menanggapi   pemahaman   yang   kedua,   sebuah   proses  pertunjukan  memerlukan management  produksi,  karena  seni  pertunjukan  adalah  bentuk seni komunal*, dan memiliki perangkat : penggagas, pewujud, pengatur dan penata. Maka harus membuat sebuah  bentuk management  yang sesuai sumber daya yang ada. Sebuah management tidak bisa dinilai baik dan buruk, namun management dinilai dari kemampuannya untuk mencapai hasil / tujuan secara optimal berdasarkan sumber daya atau konteks yang ada. Sebuah  cara  yang  optimal, maksimal perlu digaris bawahi agar tidak terjebak  dengan ke-apa adanya-an.  Kesulitan   akan  muncul  karena  bersifat  komunal,  dalam  artian penyusunan gagasan, tujuan dan managementnya secara komunal juga.
Misalnya :
Sebuah kelompok teater kampus Blabla bernama Blaw mempunyai gagasan terciptanya sebuah  pertunjukan.  Penggagas  terdiri  dari  6  orang  dan mendapatkan sponsor dari Kampus   Blabla   dalam  penciptaan  seni  pertunjukan.  Dalam  mewujudkan  gagasan tersebut diperlukan komponen antara lain :
• Tim artistik : Aktor , Penata Artistik, Penata Lighting, Penata Kostum dan Make Up; sutradara sebagai pengaturnya.
• Tim non-artistik : Marketing dan Sponsorship, House Managing*, Stage Managing ; Pimpinan Produksi bisa disebut Manager Produksi sebagai pengaturnya.
Dibawah  merupakan  garis  koordinasi dalam management produksi – dalam konteks seni  pertunjukan  hingga  terlaksananya sebuah pertunjukan. Pasca-produksi terdapat pekerjaan   penting   yang   harus   dilakukan,   yaitu   :  penyusunan  laporan,  laporan pertanggujawaban  dan  evaluasi,  pendokumentasian. Semoga menjadi ruang refleksi yang dapat diejawantah.


*komunal : bersangkutan dengan  sekelompok  orang  yang berproses – dalam konteks seni pertunjukan- bersama.
* House   Managing   bertugas  mengkoordinasikan   segala    macam    bentuk  persiapan sejak latihan pertama hingga pertunjukan siap dibawa ke panggung. House managing dibantu teamnya mengatur kelancaran  proses  latihan  mulai  dari penyusunan jadwal, persiapan tempat  latihan,  sampai  kehadiran  pemain  dan team artistik   di   tempat   latihan.   House   managing   membawahi   seksi  konsumsi, seksi transportasi, seksi komunikasi, seksi latihan.
*Stage Managing bertugas menjembatani tim artistik (sutradara, aktor, penata panggung, lighting, kostum makeup) dan tim non-artistik ( pimpro, marketing & sponsorship, house managing )

 

Kesendirian yang mendua


Mengetuk sepasang daun telinga tak berpintu
Dua botol air meriak mengganggu tempo
Teguk kehausan akan sebuah keceriariangan
sepasang kecoak bisu.
“Tunggu aku  didepan pintu hatimu” katamu tiga kemarau yang lalu
Nafas-nafas mengalun sendiri
Aku masih belum menjadi kadaluarsa, ketika
Waktu beranjak habis menunggu.
Nesia Putri Amarasthi
Bulaksumur, 06 Januari 2011


Sepanjang


Sepanjang apakah mistar untuk mengukur
panjangnya nafasku saat senja meninggalkan terang.
Selebar  apakah hatiku saat kamu
menanyakan kesungguhanku.
Sepahit apakah saat nantinya
kau memilin-milin tanda hangatku.
Setajam apakah pisau
yang kau gunakan untuk memotong perjumpaan kita.
Masih sepanjang doaku,
hingga kata pun terlahap habis oleh 1277 halaman.

Nesia Putri Amarasthi
13 Oktober 2010, Karanggayam

Mimpi indah


: tidak lagi
Rindu sudah  tertidur lelap
tidak bermimpi
hanya mengetuk pintu mimpi tetangga jauh
yang setengah indah
seperempatnya adalah bualan yang mengalah
seperempatnya lagi tersisa kosong.
Terik itu, menyampaikan pesan kepada hujan
jangan datang saat ini,
karena kekasihku akan menggantikan air hujan
dengan keringatnya yang menghujan
: setelah ia melompat awan
Rindu masih tertidur lelap
Ketika kekasihku tiba dan mengecup  bantal
Nesia P utri Amarasthi
13 September 2010, Kutuwetan

Malam Berenda


: untuk Bintang
Hei,
Lihatlah, kamu mengerling pada senyumku yang berenda
Diatap-atap tanda yang biasa saja.
Aku melihatmu, walau kau membalasnya  jauh
Dan tandatanya mengakhiri dugaanku.
Bolehkah aku mengira, bahwa garis cahaya berbentuk setengah hati
Kau lempar kedalam perkiraan cinta.
Ini belum sudahlah,
Akan kubiarkan kamu pergi melewati perjalananMu
Menebar warna-warni dari lemparan cahayaMu
: kepada siapa pun tandatanya
Telah  malam,
Ketika senyumku berenda melihat banyak tandatanya.
Nesia Putri Amarasthi
06 Oktober 2010, Karanggayam


Semacam Latar Belakang

Dunia Papua bukan hanya berisi politik yang selalu di beritakan dengan “Panas”. Namun ada sisi lain yang menyejukkan, budaya dan kehidupan sosialnnya yang unik!
_http : //kisipapua.blogspot.com di Upload pada Sabtu, 20 Oktober 2007_

Tanah Papua adalah tanah yang kaya. Dapat dideskripsikan secara konotatif dan denotataif. Selain “kaya” akan mineral alam serta subur, juga memiliki budaya dan sistem sosial yang menarik. Letak geografisnya yang ada pada ujung timur Indonesia berbatasan dengan Papua Nugini. Bentuk daratannya menyerupai kepala burung. Bumi cenderawasih ini memiliki keunikan dalam struktur sosialnya. Banyak suku yang mendiaminya bukan menjadkan halangan untuk berkebudayaan, namun sebuah tabungan yang besar bagi kebudayaan nusantara.
Suku Amungme adalah bagian dari suku bangsa di Papua yang mendiami beberapa lembah luas di kabupaten Mimika dan Kabupaten Puncak Jaya antara gunung-gunung tinggi yaitu lembah Tsinga, lembah Hoeya, dan lembah Noema serta lembah-lembah kecil seperti lembah Bella, Alama, Aroanop, dan Wa. Sebagian lagi menetap di lembah Beoga (disebut suku Damal, sesuai panggilan suku Dani) serta dataran rendah di Agimuga dan kota Timika. ( http://www.lpmak.org , diakses pada 31 Mei 2008 )
Secara harafiah Amungme terdiri dari dua kata yang memiliki makna berbeda yaitu “amung” yang artinya utama dan “mee” yang artinya manusia, menurut legenda yang diwariskan turun temurun, konon orang Amungme berasal dari derah Pagema (Lembah Baliem) Wamena. Hal ini dapat ditelusuri dari kata Kurima yang artinya tempat orang berkumpul dan hitigima yang artinya tempat pertama kali para nenek moyang orang-orang Amungme mendirikan honey dari alang-alang. ( idem )
Orang Amungme percaya bahwa mereka adalah keturunan pertama dari anak sulung bangsa manusia, mereka hidup disebelah utara dan selatan pegunungan tengah yang selalu diselimuti salju abadi yang dalam bahasa Amungme disebut nemangkawi (anak panah putih). Orang Amungme berasal dari suku Damal, keluarga besar eogam-e, anak sukunya adalah suku Delem yang hidup di sepanjang sungai Memberamo. ( idem )
Yang menarik dari Amungme adalah usaha-usaha untuk mempertahankan eksistensi sukunya sangat keras. Dapat dibuktikan dengan adanya banyak perlawanan terhadap penambang-penambang besar dikawasan tanah leluhurnya. Walaupun yang pada akhirnya akan terpinggirkan oleh sebuah ”kekuatan besar” yang membuka pertimbangan di wilayah tanah leluhurnya.

Konsep Umum Kearifan Lokal di Suku Amungme
Masyarakat Suku Amungme hidup dan menyatu dengan alam serta menyelaraskan hubungan roh dengan alam. ( http://www.melanesianews.org, diakses pada 18 Mei 2008 ). Hubungan yang yang terjadi secara turun temurun ‘ditularkan’ , sehingga menjadi sebuah local genius. Masyarakat Suku Amungme sendiri sangat menghargai alam. Mereka menganggap bahwa alam adalah sumber kehidupan mereka dan satu-satunya penghubung antara mereka dan roh nenek moyang mereka. Hal ini terjadi tidak hanya di Suku Amungme saja seperti halnya yang disampaikan oleh William Wordsworth dan William Blake yang dikutip oleh Thomas Hidya Tjaya dalam bukunya Kierkegaard dan Pergulatan Menjadi Diri Sendiri :
….bahwa manusia sebetulnya memiliki kesatuan dengan alam, seperti tampak dalam puisi-puisi mereka. Rasa kesatuan dan harmoni dengan alam ini dalam arti tertentu “melahirkan” gagasan kaum idealis mengenai keselarasan Roh Semesta dengan roh manusia individual, disamping mengenai Roh Semesta yang mengiringi perjalanan sejarah umat manusia dan mengantar mereka pada kepenuhan hidup.

Pernyataan diatas menegaskan bahwa ikatan atau relasi antara manusia dan alam sangat erat. Suku Amungme sendiri percaya bahwa usaha yang baik akan mendapatkan hasil yang baik. Terkait dengan hubungannya dengan alam dan roh nenek moyang mereka. Misalkan dalam berkebun, masyarakat Suku Amungme akan mengusahakan sesuatu yang maksimal, dengan harapan roh leluhur akan memberikan berkah kepada mereka yang berupa panenan yang banyak.
Sikap dan pandangan orang Amungme menggambarkan habitat kehidupannya berdasarkan tubuh seorang perempuan, yakni ibu mereka. Bagian puncak Gunung Ertzberg disimbolkan dengan kepala (nainggok) sebagai tempat sakral dan spirit kehidupan Amungme. Pegunungan tengah tempat hidup orang Amungme, divisualisasikan sebagai bagian leher sampai pusar ibu. Di sanalah sumber kehidupan orang Amungme. Sedangkan kaki perbukitan sampai kawasan pantai dilambangkan dengan onisa (bagian tubuh dari pusar sampai kaki). Habitat kehidupan suku Amungme secara vertikal digambarkan sebagai tubuh tegak seorang perempuan. ( Indra Ismawan. Minggu, 14 September 1997. Merenungkan Nasib Suku Amungme. Kompas Online. Diakses pada 17 Mei 2008 )

Implementasi Konsep Kearifan Lokal Suku Amungme
Dari konsep umumnya, dapat ditelaah bahwa masyarakat Suku Amungme dalam sepanjang hidupnya memiliki sebuah aturan yang kemudian dapat dirasionalisasikan. Dibawah akan dijelaskan mengenai banyak hal implementasi dari konsep umum yang sudah dijelaskan pada bab pendahuluan.
1. Sistem Pendidikan Oleh Pai Tua
Sejak kecil, masyarakat Suku Amungme diajarkan cara-cara bertahan hidup di alam. Ketika kecil mereka diajarkan untuk dapat mencari makan, membangun rumah, mempelajari hukum adat, memasak serta segala yang biasa mereka lalukan untuk bertahan hidup. Mereka diajarkan berjalan jauh, mendaki gunung, memanjat tebing, dll. Untuk perempuan diajarkan memasak, membuat baju, mengasuh anak, dll.
Jika dirasionalisasikan sistem pendidikan mereka sebagai sebuah sarana untuk menurunkan adat mereka kepada keturunannya. Juga untuk lebih mengenal eksistensi dirinya diantara relasinya dengan alam dan roh leluhur. Dalam keyakinan Amungme, bahwa apabila ada pelanggaran dalam aturannya ( baik dalam konteks kepercayaan maupun sosial ). Jadi sedari kecil mereka “ditularkan” apa yang orangtua ( Pai Tua ) miliki.
Perempuan dalam Suku Amungme memiliki posisi yang besar dalam menentukan kesejahteraan seluruh masyarakat Amungme. Betapa tidak, perempuan sebagai simbol kesuburan dan kesejahteraan. Maka dari itu, pendidikan kaum perempuan di dalam Suku Amungme dirasa lebih berat daripada pendidikan kaum laki-laki.
( Media Indonesia. 4 Juni 2005 . Perempuan Lebih Ditakuti Ketimbang Pria.. http://www.infopapua.com , diakses pada 8 Mei 2008 )
2. Ritual-ritual adat
Masyarakat yang hidup dan menyatu dengan alam, menyelaraskan hubungan roh mereka dengan apa yang ada di alam. Masyarakat adat mengenal apa yang dinamakan kepercayaan kepada sang pencipta, percaya kepada roh-roh halus, animisme dan dinamisme. Dalam implementasinya mereka menjalankan ritual-ritual yang berkaitan dengan kepercayaan/ sistem religi mereka
a. Ritual untuk mendapatkan perlindungan
Ritualnya adalah dengan menyimpan tulang-belulang di tempat-tempat khusus, di hutan atau dibuat pondok, lalu disembah dengan meletakan sesajian-sesajian. Semuanya dilakukan untuk mendapatkan perlindungan, kekuatan, mendatangkan kesuburan tanah.
Cara kami mereka berbeda-beda, tetapi tujuannya sama. Yaitu menyembah Tuhan sebagai pencipta alam semesta ini. Yang terpenting adalah yang hidup sekarang, harus berbuat baik dengan sesama, alam dan segala sesuatu yang ada di muka bumi ini. ( Fuska Sani Evani. 11 Februari 2005. Koteka dan Dinamikanya. Suara Pembaruan. http://www.papuanindependent.com , diakses pada 8 Mei 2008 )
b. Ritual Adat ‘Perang’
Perang merupakan sebuah ritual adat yang ditunggu-tunggu bagi masyarakat suku Amungme. Namun perang suku yang dilakukan hanya sebatas untuk melestarikan adat nenek moyang dan bukan bertujuan untuk saling membunuh. Ritual perang dulunya untuk eksistensi sebuah suku, bagi Suku Amungme sendiri ritual perang adat ini sebagai simbol kesuburan dan kesejahteraan. Prosesi ritual ini dilakukan oleh Suku Amungme dengan perlengkapan perang lengkap, misalnya tombak, busur, panah. Biasanya pada akhir prosesi akan dinyanyikan lagu-lagu adat dan teriakan-teriakan penuh semangat. Mereka pun berangkulan sambil mengunyah pinang bersama. Kemudian mereka menyanyikan lagu-lagu adat, simbol kebesaran dan kehormatan suku melalui perang itu. Tanpa darah dan korban jiwa, perang berakhir dengan kebahagiaan. Daging babi yang masih hangat pun menanti untuk disantap beramai-ramai. ( Media Indonesia. 24 Juni 2005. Merindukan Perang tanpa Darah. www. Infopapua.com , diakses pada 8 Mei 2008 )
c. “bakar batu” atau ritual barapen
Ritual ini dilaksanakan untuk memperbaiki hubungan sosial masyarakat suku atau bahkan masyarakat antar suku. Ritual ini melibatkan banyak orang. Ritual ini dilaksanakan seusai ritual perang. Setelah ritual perang sang kepala suku menyediakan babi untuk disantap. Kebiasaan ini memiliki arti nilai-nilai kehidupan yang sangat sederhana yang selalu bermuara pada kebersamaan, kekompakan, perdamaian, keadilan, kejujuran, ketulusan, dan keikhlasan. Seperti namanya, Bakar Batu memang benar-benar dimulai dengan membakar batu. Tetapi, penamaan itu sesungguhnya diberikan terkait proses memasak makanan secara tradisional. Ritual Bakar Batu merupakan cermin demokrasi sejati dan sempurna ada di Pegunungan Tengah. .( Gabriel Maniagasi. http://www.pintusingapura.org/forumpintu/ , diakses pada 8 Mei 2008)
2. Konstruksi Rumah adat dan Maknanya bagi masyarakat Adat
Honae merupakan rumah-rumah adat penduduk asli Papua yang tinggal di pegunungan. Dalam satu keluarga, antara kaum perempuan dan lelaki meski berstatus saudara tidak boleh tinggal dalam satu rumah. Karena itu para kepala keluarga diwajibkan membangun dua buah honae untuk tempat tinggal anggota keluarga mereka berdasarkan jenis kelamin.
Menurut Fanny Kogoya, tempat tinggal laki-laki harus terpisah dengan perempuan bertujuan untuk menjaga aksebilitas kaum laki-laki. Bagi orang Papua dan khususnya masyarakat adat, di tubuh perempuan, ada kehidupan dan kematian. Karenanya, harus ada keseimbangan. Karena itu, orang Papua sedikit merasa rikuh jika tinggal bersama dalam satu rumah, meski mereka sudah berkeluarga. ( Fuska Sani Evani. 11 Februari 2005. Koteka dan Dinamikanya. Suara Pembaruan. http://www.papuanindependent.com , diakses pada 8 Mei 2008 )
Umumnya dalam sebuah kelompok terdiri atas satu ‘Itorei’ (honae untuk laki-laki), beberapa ‘Ongoi’ (honae untuk perempuan), dan dapur. Jarak antarhonae tidak saling berdekatan untuk menyisakan sebidang lahan sebagai tempat bakar batu. Honae itu sendiri adalah sebuah bangunan yang berbentuk seperti tabung silinder. Berdinding dan berlantai kayu dengan sebuah pintu untuk keluar-masuk rumah. Dari segi arsitektur rancang bangun, honae yang dibangun dengan bentuk silinder bukanlah tanpa maksud. Dengan bentuknya yang melingkar di semua sisi, bangunan ini dapat menahan kerasnya terpaan angin kencang yang sering terjadi di Pegunungan Papua. Tepat di tengah ruangan, di permukaan lantai, dibangun perapian yang berfungsi utama sebagai penghangat ruangan dan penerangan di malam hari. Ruangan bagian dalam mereka gunakan untuk tempat berkumpul sekaligus ruang tidur anggota keluarga.

Tantangan Kearifan Lokal Papua
Dengan dibukanya perusahaan tambang Internasional merubah sebagian kondisi di dalam masyarakat adat Amungme. Datangnya para pegawai di perusahaan tersebut – yang notabene karena perusahaan Internasional, maka datang pendatang dari berbagai penjuru dunia-. Mereka membawa kebiasaan masing-masing dan sedikit demi sedikit ‘meracuni’ kebiasaan-kebiasaan lokal masyarakat. Yang pada awalnya masyarakat adat tidak terlalu memperhatikan nilai uang dalam mempertahankan hidupnya, setelah adanya semacam percampuran kebiasaan, maka sebagian masyarakat begitu ‘gila’ dengan nilai uang. Mereka tidak lagi menaati aturan-aturan adat dan lebih mementingkan nilai uang. Uang mereka dapat dari penjualan hasil tambang, hasil tambang mereka peroleh dari sisa-sisa tambang besar. Sedangkan tidak secara langsung disadari oleh sebagian dari mereka – atau memang sengaja ada pihak yang tidak menyadarkan- tanah dimana tempat didirikan perusahaan tambang tersebut adalah tanah adat yang disucikan karena merupakan tempat peristirahatan roh ibu ( roh leluhur) atau masyarakat adat Amungme menyebutnya dugu-dugu.
Tantangan juga muncul dari pemerintah, yang pada masa Orba mengeluarkan kebijakan mengenai pemakaian koteka. Pemerintah melarang masyarakat menggunakan koteka karena dianggap sebagai simbol kemiskinan, keterbelakangan dan “ tidak beradab”. Karena itu pemerintah membagikan pakaian gratis kepada mereka, walau hanya bisa bertahan beberapa bulan saja, karena baju yang mereka kenakan tidak pernah diganti sehingga koyak dibadan. ( Ahmad Arif. Laporan Jurnalistik Kompas : Ekspedisi Tanah Papua. 35-36) .
Keadaan diperparah dengan konflik-konflik bersenjata yang kian mengental : konflik antar suku, serta konflik antara masyarakat adat dengan perusahaan tambang asing yang menggunakan tanah adat mereka sebagai lahan pertambangan. Jika saja proses ekstraksi sumber daya alam dengan pola-pola enclave dan terus meninggalkan hak-hak masyarakat adat, niscaya konflik perebutan sumber daya alam di Papua akan terus berkepanjangan. Emas dan kekayaan alam lain di Papua hanya akan menjadi kutukan.
( Ahmad Arif. Laporan Jurnalistik Kompas : Ekspedisi Tanah Papua. 35-36) .
Perusahaan tambang tersebut memang telah melakukan “kejahatan double”, selain merusak secara ekologis, secara kultural mereka hampir saja membinasakan Suku Amungme. Rentetan masalah seperti penggusuran Suku Amungme dari Grasberg ke Kwamki mengakibatkan 75 persen generasi Amungme punah akibat geografis tempat tinggal berbeda. (Dominggus A. Mampioper. 06 Nov 2007. Pertikaian di kawasan tambang emas Papua. http://www.superwebindo.com. Diakses pada 17 Mei 2008 )

Kesimpulan
Pada dasarnya masyarakat Suku Amungme mempercayakan hidupnya kepada alam dan roh ibu ( leluhur mereka ). Seperti yang ada pada konsep umum kearifan lokal mereka habitat kehidupan suku Amungme secara vertikal digambarkan sebagai tubuh tegak seorang perempuan. Bertolak dari hal tersebut maka masyarakat suku Amungme sangat memposisikan perempuan. Perempuan sebagai simbol kesuburan, kesejahteraan, kemenangan. Seperti halnya konsep ekofeminisme, yang menganggap perempuan adalah sebuah sosok yang lain dari alam. Ketika terjadi kerusakan alam, maka yang terjadi adalah pengabaikan akan sifat kealaman. Sedangkan makhluk hidup akan senantiasa beraksi dan beraksi atas perubahan yang terjadi pada alam.
Dalam ritual-ritual yang dilaksanakan, masyarakat adat sangat memperhatikan hubungan mereka dengan alam, roh leluhur dan hubungan antar manusia. Tantangan yang muncul berasal dari pihak perusahaan tambang swasta, muncul dari pemerintah juga dari masyarakat adat Suku Amungme sendiri. Bagaimanapun kerusakan alam akan terjadi jika pihak penguasa meminggirkan sebuah kearifan lokal yang menjadi pandangan hidup masyarakat lokal setempat. Pihak yang terpinggirkan pun akan terkikis secara alamiah.

Pustaka
__. 2007. Laporan Jurnalisik Kompas : Ekspedisi Tanah Papua. Kompas : Jakarta
Abdullah, Irwan.Prof.Dr. 2007. Konstruksi dan Reproduksi Kebudayaan. Pustaka Pelajar : Yogyakarta
Hidya Tjaya, Thomas. 2004. Kierkegaard dan Perglatan Menjadi Diri Sendiri. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia
Dominggus A. Mampioper. 06 Nov 2007. Pertikaian di kawasan tambang emas Papua. http://www.superwebindo.com. Diakses pada 17 Mei 2008
Fuska Sani Evani. 11 Februari 2005. Koteka dan Dinamikanya. Suara Pembaruan. http://www.papuanindependent.com , diakses pada 8 Mei 2008
Gabriel Maniagasi. http://www.pintusingapura.org/forumpintu/ , diakses pada 8 Mei 2008
Media Indonesia. 4 Juni 2005 . Perempuan Lebih Ditakuti Ketimbang Pria.. http://www.infopapua.com , diakses pada 8 Mei 2008
Indra Ismawan. Minggu, 14 September 1997. Merenungkan Nasib Suku Amungme. Kompas Online. Diakses pada 17 Mei 2008
http://www.lpmak.org , diakses pada 31 Mei 2008
http : //kisipapua.blogspot.com di Upload pada Sabtu, 20 Oktober 2007

Hujan di Bulan ke-10


Ricik-riciknya menyertaiku
Bau harumnya menuntun keluasanku
Sendu dinginnya mengirim kerelaan
: terhadap perjalanan memanjang
Hujan di Bulan ke-10
sudah meruangkan waktu
angka-angka diaduk dengan pelepah pilihan
Dan satu..
Yang tertangkap dalam arah pandang
melembab di Bulan yang ke-10

Nesia Putri Amarasthi
07 Oktober 2010, Karanggayam

Hurufhuruf Bersayap


Hujan kecurigaan telah menumbuhkan
sepasang sayap dihurufhuruf
yang terbaca dan termaknai perlahan,
kemudian melebur bersama detik kedepan.

Sejalan dengan kekhawatiran
yang tertanda dibawah citra-citra
: peristiwa setengah
Tiada kemungkinan-kemungkinan diantara
jam biru yang berdenyut kelaparan.

Dia, hurufhuruf bersayap yang akan menjelma
kemungkinan yang terbeli

Nesia Putri Amarasthi
25 Februari – 01 Oktober 2010

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.